Adapun empat buah perahu yang menyusul rombongan Toar dan Lumimuut,
konon dua di antaranya berlabuh di Kema, kemudian mendirikan pemukiman
di Minawerot, Kumelembuay dan Kalawat (Klabat). Satu buah perahu
berlabuh di Atep. Mereka menuju ke sebelah barat dan menjumpai sebuah
danau besar yang berada di tengah dataran tinggi dan memutuskan untuk
bermukim di situ lalu mendirikan pemukiman Tataaran, Koya, Tampusu
(Remboken) dan Kakas. Namun beberapa di antaranya, menyusuri pesisir
pantai ke arah selatan hingga tiba di Bentenan dan sebahagian lagi di
antaranya menuju ke sebelah barat lalu mendirikan pemukiman Tosuraya.
Sedangkan satu buah perahu berlabuh di Pogidon kemudian mendirikan
pemukiman Singkil dan Malalayang di sekitar Gunung Bantik.
Ketika penduduk di sekitar Danau Bulilin terus bertambah banyak, para
Tonaas, Walian dan Potuusan berinisiatif mengadakan musyawarah untuk
membicarakan tentang (Tumani) penyebaran penduduk ke berbagai penjuru di
tanah Malesung. Tumani
inilah yang dikatakan H. M. Taulu (Op. Cit, 1955) sebagai pemancaran
pertama orang Minahasa. Di tempat yang baru, mereka bertemu dengan
orang-orang lain yang bukan sekaum Taranak. Di antara turunan mereka,
terjadi perkawinan campur sehingga dengan semakin banyaknya
Taranak-taranak, maka terciptalah wanua (negeri).
Sebagaimana ketentuan adat, golongan Pasiowan Telu diwajibkan
melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk kepentingan umum dan pinontol
(bekerja kepada para pemimpin), seperti menanam dan menuai. Selain itu
diwajibkan membagi hasil pertanian, peternakan maupun perburuan mereka
kepada golongan Makarua Makasiow dan golongan Makatelu Pitu serta
melakukan ketentuan-ketentuan adat misalnya mempersiapkan kurban
persembahan setiap dilangsungkan ritual poso negeri dan menjaga keamanan
negeri secara bergiliran (Drs. R. E. H. Kotambunan,Minahasa II &
III, 1985).
Sekitar abad ke-5 terjadi pemberontakan dan peperangan dari golongan
Pasiowan Telu karena tuntutan mereka agar tanah-tanah adat sebagai lahan
pertanian yang sebagian besar sudah di-apar (diolah) sebagai milik
golongan Makarua Siow dan Makatelu Pitu agar dibagi secara adil,
menuntut agar sistem pengangkatan pemimpin tidak lagi bersifat otoritas
golongan Makarua Siow dan golongan Makatelu Pitu, melainkan harus
dipilih dari seluruh anggota masyarakat, tidak dikabulkan dengan alasan
tidak sesuai dengan ketentuan adat.
Melihat peperangan antar Walak (kelompok Taranak) terus berlangsung,
tahun 670, beberapa Walian dan Tonaas menyadari akan pentingnya suatu
musyawarah di dalam usaha menciptakan kembali akan persatuan dan
kesatuan yang berlangsung di sekitar kaki Gunung Tonderukan. Di tempat
itu, terdapat sebuah batu “Tumotowa” tempat pelaksanaan ritual poso (J.
G. F. Riedel, The Minahasa, 1862).
Kendati berlangsung alot, namun musyawarah yang dipimpin oleh Tonaas
Kapero yang berasal dari kelompok Pasiowan Telu bersama Muntu Untu dari
golongan Makarua Siow sebagai panitera/notulis dan Mandey sebagai saksi,
berhasil mencapai beberapa kesepakatan penting, di antaranya: -
Menerima penetapan pembagian pemukiman setiap kaum Taranak - Setiap kaum
Taranak dapat mengembangkan ketentuan adat dan ritual yang tetap
berlandaskan kepercayaan terhadap Empung Walian Wangko (Tuhan Yang Maha
Agung) dan opo (leluhur). - Setiap kaum Taranak dapat mengembangkan
bahasa sesuai kehendak masing-masing, namun semuanya tetap mengaku
sebagai satu Kasuruan, yang tidak dapat dicerai-beraikan oleh siapapun.
Selanjutnya pembagian wilayah pemukiman diatur sebagai berikut :
1. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Mapumpun, Belung, dan Walian
Kakamang menuju sekitar Gunung Lokon dan bermukim di Mayesu, dekat Kinilow dan Muung. Mereka disebut Tou Muung kemudian menjadi Tomohon. Mereka dinamakan Tombulu.
2. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Walalangi dan Walian Rogi menuju ke Niaranan dan Kembuan (Tonsea Lama). Sebagian lagi mendirikan pemukiman di sekitar Gunung Kalawat (Klabat). Mereka disebut “Tou Un Sea” (Tonsea)
3. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Karemis dan Piay, pergi ke arah barat dan menyebar ke Tombasian, Kawangkoan, Langowan, Rumoong (Tareran) dan Tewasen.
4. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Pangemanan, Runtuwene dan Mamahit, menuju ke Kakas, Atep dan Limambot. Mereka dinamakan Toulour.
5. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Wuntu, menuju ke Bentenan. Sebagian lagi mendirikan pemukiman di Ratan. Mereka disebut Ratahan. Yang menuju ke Towuntu (Liwutung), mereka disebut tou Pasan. Beberapa di antara tou Pasan mengadakan tumani dan bermukim di Tawawu (Tababo), Belang dan Watuliney,
membaur dengan penduduk dari Taranak Ponosakan, yaitu keluarga Butiti,
Wumbunan dan Tubelan yang datang dari Wulur Mahatus (Pontak). Mereka
disebut tou Ponosakan.
6. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Kamboyan, menuju ke dataran
sekitar Danau Bulilin, tempat asal mereka semula dan mendiami pemukiman
di Bukit Batu, Kali dan Abur. Mereka disebut Toundanouw (Tondano), artinya orang yang tinggal di sekitar air. Kemudian bangsa Belanda menamakan mereka Tonsawang, artinya orang yang suka menolong.
7. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Angkoy dan Maindangkay
menuju ke arah barat hingga tiba di sekitar Gunung Bantik dan mendirikan
pemukiman Malalayang.
Beberapa di antara mereka pergi bermukim di Pogidon dan Singkil. Karena
bermukim di sekitar Gunung Bantik, mereka dinamakan tou Bantik.
Adapun salah satu keputusan penting dari musyawarah di batu ‘’Tumotowa’’ yaitu pembagian wilayah, sehingga batu itu dinamakan ‘’Watu Pinawetengan’’,
artinya batu tempat pembagian. Dalam perjalanan sejarah ternyata perang
antar anak suku di Malesung masih sering terjadi, sehingga 1428 para
pemimpin Minahasa kembali mengadakan musyawarah di sekitar Watu Pinawetengan. Adapun keputusan yang dicapai dalam musyawarah, yaitu: nama ‘’Malesung’’ diubah menjadi ‘’Minahasa’’,
berasal dari kata esa (satu), diberi awalan ma dan sisipan in, maka
terbentuklah kata ‘’Maha Esa’’ (menyatukan), kemudian menjadi
‘’Minahasa’’ (Dr. Godee Molsbergen, Geschiedenis Van De Minahasa, 1929),
artinya yang menjadi satu, yaitu menyatukan seluruh anak suku Minahasa:
Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Toulour, Pasan, Ratahan, Ponosakan, Tonsawang dan Bantik.
http://id.wikipedia.org/wiki/Ratahan,_Minahasa_Tenggara#Asal_Usul_Penduduk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar